Sumber : http://saunglink.blogspot.com/2013/01/cara-membuat-auto-read-more-di-blogger.html#ixzz2OnW2jldu

Selasa, 05 Maret 2013

Clerical Worker in the Future


Clerical Worker in the Future
Clerical Worker in the Future
Clearical Worker as Receptionist
An office receptionist is the first person that the customers see when they come in to an office and also the first person that a caller would speak with if contacting the company by phone
Receptionist Work at Last and In the future

At Last
§  Handling Phone : call-handling is an activity serving customers or contacts via phone, where customers can leave a message or deliver the desired goals and objectives they call
§  Handling Guess  : serve the guests is an activity providing service to guests to help and meet their needs for the company. in this case we should be friendly, polite, well mannered and meek
§  Over Taking        :  take over the work can also be done by a receptionist, for example, if the leaders were out of town so some leadership tasks can be handled by the rules and authority granted
At Now : create a spread sheet, create a mail merge, create word documents, Updating and maintaining database of customers and taking orders over the phone is a routine activity every day to do. it is necessary that the company continues to update and can give the best to its customers.
§  Created Spread sheet
§  Create mail merge
§  Create documents word
§  Update and maintain a customer database
§  Flexiblle Call Routing

Skill Needed for The Future : there are some skills that must be considered for the future include
§  Good Speaking     :  use language that is courteous, friendly, and organized. especially in the phone try not eating and talking with others.
§  Social                    :  as a receptionist should have an open attitude to customer relations and this is done to maintain the good name and give a positive impression
§  Active Listening Perceptiveness : accept criticism and suggestions from others to build a better company
§  Service                 : service is very important because it affects the progress or decline of our company, in order to give the best customer service and relations remain in a relationship with our company '
A Receptionist in the future must have most knowledge, skills and good attitude for increasing carier and for be a good person at the future.
My interest is in future, because I am going to spend the rest of my life there.
Modern awards
A modern award may define the meaning of the term ‘clerical work’ for the purposes of interpreting that award. For example, the Clerks — Private Sector Award 2010 defines ‘clerical work’ to include recording, typing, calculating, invoicing, billing, charging, checking, receiving and answering calls, cash handling, operating a telephone switchboard and attending a reception desk. However, the award also names industry awards containing clerical classifications that are not covered by the Clerks



Kebudayaan Suku Bugis


Kebudayaan Suku Bugis

Suku Bugis adalah salah satu suku yang berdomisili di Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga bisa dikategorikan sebagai orang Bugis. Diperkirakan populasi orang Bugis mencapai angka enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara seperti di Malaysia, India, dan Australia.

Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat.Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini.Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum.Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan.Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhi.

Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten SidenrengRappang.Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan namaSidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa.Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong.Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen.Namun terdapat daerah dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut ‘Tau Lautang’ yang berarti ‘Orang Selatan’.Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat.Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu.Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat.Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka.Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.


1. Bahasa Suku Bugis

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

2. Kepercayaan atau system religi

Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat.Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu.Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat.Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka.Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.
         
Religi orang Bugis dalam zaman pra-Islam seperti yang disebutkan dalam sure’ Galigo (karya sastra kuno Bugis), sebenarnya telah mengandung suatu kepercayaan kepada satu dewa yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama seperti : Patoto’e (Dia yang menentukan nasib), To-palanroe  (Dia yang menciptakan), Dewata seuae (Dewa yang tunggal), Tu-riE A’ra’na (kehendak yang tertinggi), Puang Matua(Tuhan yang tertinggi). Waktu agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke-17, maka ajaran Tauhid dalam Islam, dapat mudah diterimadan proses itu dipercepat dengan adanya kontak terus-menerus dengan pedagang-pedagang Melayu Islam yang sudah menetap di Makassar, maupun dengan kunjungan-kunjungan niaga orang Bugis ke negeri-negeri lainyang penduduknya sudah beragama Islam.

3. Sistem Kekerabatan Suku Bugis
Dalam kalangan masyarakat Bugis, sistem kekerabatan yang dianut adalah ade’ asseajingeng. Sistem ini menyatakan peranannya dalam hal pencarian jodoh atau perkawinan untuk membentuk keluarga baru. Dalam penarikan garis keturunan mereka berpedoman kepada prinsip bilateral, artinya hubungan seseorang dengan kerabat pihak kerabat ayah dan pihak ibu sama erat dan pentingnya. Masyarakat Bugis terdiri dari dua golongan yang bersifat eksogam,pertaliankekerabatan dihitung menurut prinsip keturunan matrilineal, tetapi perkawinan bersifat patriokal. Dalam suatu perkawinan, orang Bugis sangat memperhatikan uang belanja yangdiberikan dari mempelai laki-laki. Makin besar pesta perkawinan itu ( uang belanja ), makin mempertinggi derajat sosial seseorang, walaupun harus dibelinya dengan kebangkrutan, atau dengan berhutang sekalipun. Penggolongan kerabat (seajing) di kalangan orang Bugis dibedakan antara rappe atau kelompok kerabat sedarah (consanguinity )dan sumpung lolo atau pertalian kerabat karena perkawinan (affinity). Kerabat itu dibedakan pula atas kerabat dekat ( seajing mareppe ) dan kerabat jauh ( seajing mabela ).
          Dalam masyarakat Sulawesi Selatan ditemukan sistem kekerabatan. Sistem kekrabatan tersebut adalah sebagai berikut:
a.   Keluarga inti atau keluarga batih. Keluarga ini merupakan yang terkecil. Dalam bahasa Bugis keluarga ini dikenal dengan istilah Sianang , di Mandar Saruang Moyang, di Makassar Sipa’anakang/sianakang, sedangkan orang Toraja menyebutnya Sangrurangan. Keluarga ini biasanya terdiri atas bapak, ibu, anak, saudara laki-laki bapak atau ibu yang belum kawin.
b.   Sepupu. Kekerabatan ini terjadi karena hubungan darah. Hubungan darah tersebut dilihat dari keturunan pihak ibu dan pihak bapak. Bagi orang Bugis kekerabatan ini disebut dengan istilah Sompulolo, orang Makassar mengistilkannya dengan Sipamanakang. Mandar Sangan dan Toraja menyebutkan Sirampaenna. Kekerabatan tersebut biasanya terdiri atas dua macam, yaitu sepupu dekat dan sepupu jauh. Yang tergolong sepupu dekat adalah sepupu satu kali sampai dengan sepupu tiga kali, sedangkan yang termasuk sepupu jauh adalah sepupu empat kali sampai lima kali.c. Keturunan. Kekerabatan yang terjadi berdasarkan garis keturunan baik dari garis ayah maupun garis ibu. Mereka itu biasanya menempati satu kampung. Terkadang pula terdapat keluarga yang bertempat tinggal di daerah lain. Hal ini bisanya disebabkan oleh karena mereka telah menjalin hubungan ikatan perkawinan dengan seseorang yang bermukim di daerah tersebut. Bagi masyarakat Bugis, kekerabatan ini disebut dengan Siwija orang Mandar Siwija, Makassar menyebutnya dengan istilah Sibali dan Toraja Sangrara Buku.

c.    Pertalian sepupu/persambungan keluarga. Kekerabatan ini muncul setelah adanya hubungan kawin antara rumpun keluarga yang satu dengan yang lain. Kedua rumpun keluarga tersebut biasanya tidak memiliki pertalian keluarga sebelumnya. Keluraga kedua pihak tersebut sudah saling menganggap keluarga sendiri. Orang-orang Bugis mengistilakan kekerabatan ini dengan Siteppang-teppang, Makassar Sikalu-kaluki, Mandar Sisambung sangana dan Toraja Sirampe-rampeang.

d.   Sikampung. Sistem kekerabatan yang terbangun karena bermukim dalam satu kampung, sekalipun dalam kelompok ini terdapat orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungan darahnya/keluarga. Perasaan akrab dan saling menganggap saudara/ keluarga muncul karena mereka sama-sama bermukim dalam satu kampung. Biasanya jika mereka berada itu kebetulan berada di perantauan, mereka saling topang-menopang, bantu-membantu dalam segala hal karena mereka saling menganggap saudara senasib dan sepenaggungan. Orang Bugis menyebut jenis kekerabatan ini dengan Sikampong, Makassar Sambori, suku Mandar mengistilakan Sikkampung dan Toraja menyebutkan Sangbanua.
Kesemua kekerabatan yang disebut di atas terjalin erat antar satu dengan yang lain. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh karena jika seorang membutuhkan yang lain, bantuan dan harapannya akan terpenuhi, bahkan mereka bersedia untuk segalanya.
Adat Pernikahan 

Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:
1.Assialang Maola
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah
    maupun ibu.
2. Assialanna Memang
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah
    maupun ibu.
3. Ripaddeppe’ Abelae
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah
    maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga. 

Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu

4. Sistem Ekonomi Suku Bugis
Kebudayaan Maritim Bugis tidak hanya mengembangkan teknik dan system
Pelayaran.Tetapi juga telah memilih hukum niaga dalam pelayaran yang disebut Ade Anopoliping Bicaranna Pabboluebdan yang tertulis pada lontar oleh Amanna Gappa dalam abad 17. Sebelum perang dunia II daerah Sulawesi selatan adalah daerah surplus beras dan jagung .

5. Sistem Kesenian Suku Bugis
Folklore didefinisikan sebagai perbuatan-perbuatan (tarian), benda-benda , cerita rakyat yang belum dicatat atau dituliskan (folktale). Contoh beberapa folktale yang berkembang diantara orang-orang Bugis adalah Pocci-Tana,asal-usul kota (Toraja dan Luwu, Sinjai, Enrekang dan Mangkendek, dan Bulukamba), pemmali (tentang larangan atau pantangan).




Alat musik:
1.Kacapi(kecapi)
     Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang  memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
2. Sinrili
          Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan
membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain
duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.

3. Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundarseperti rebana.
4. Suling
          Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan
dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah
   Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris)      
atau acara penjemputan tamu.

Seni Tari
• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika
kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran
dan kehormatan
• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang
sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan
perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria),
namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan tari
Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).





Permainan

Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak

Rumah Adat

Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain ( sumatera dan kalimantan ). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan [ orang bugis menyebutnya lego - lego
Bagaimana sebenarnya arsitektur dari rumah panggung khas bugis ini ?. Berikut adalah bagian – bagiannya utamanya :
  1. Tiang utama ( alliri ). Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.
  2. Fadongko’, yaitu bagian yang bertugas sebagai penyambung dari alliri di setiap barisnya.
  3. Fattoppo, yaitu bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.
Mengapa orang bugis suka dengan arsitektur rumah yang memiliki kolong ? Konon, orang bugis, jauh sebelum islam masuk ke tanah bugis ( tana ugi’ ), orang bugis memiliki kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas ( botting langi ), bagian tengah ( alang tengnga ) dan bagian bawagh ( paratiwi ). Mungkin itulah yang mengilhami orang bugis ( terutama yang tinggal di kampung, seperti diriku ) lebih suka dengan arsitektur rumah yang tinggi.
Bagian – bagian dari rumah bugis ini sebagai berikut :
  1. Rakkeang, adalah bagian diatas langit – langit ( eternit ). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.
  2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ).
  3. Awa bola, adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.
Yang lebih menarik sebenarnya dari rumah bugis ini adalah bahwa rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun.Semuanya murni menggunakan kayu.Dan uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah.

Baju Khas 

Baju bodo merupakan pakaian adat masyarakat Bugis-Makassar, terdiri dari berbagai macam warna yang dikenakan oleh perempuan utamanya dalam acara-acara adat seperti acara pengantin dan acara-acara adat yang lain. Tapi sudah tahu belum kalau ternyata perempuan yang memakai baju bodo ini tidak asal memilih warna.
Menurut  orang-orang tua kita, dahulu kala ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo ini. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
  1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
  2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
  3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
  4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
  5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
  6. Warna ungu dipakai oleh para janda.
Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, utamanya pada pesta pernikahan.Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman.Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busana yang lebih simpel dan mengikuti trend. Meskipun demikian, di daerah-daerah tertentu atau kampung-kampung bugis di luar kota yang jauh dari pengaruh budaya luar, baju bodo masih banyak dikenakan untuk acara-acara pernikahan dan acara-acara lain. Baju bodo juga tetap dikenakan oleh mempelai perempuan dalam resepsi pernikahan ataupun akad nikah.Begitu pula untuk passappi’-nya (Pendamping mempelai, biasanya anak-anak). Juga digunakan oleh pagar ayu
 

Hukum Adat

Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo’. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo’ Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat.Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini.Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum.Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan. 

Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya.Dalam Lontara’ La Toa, Nenek Mallomo’ disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo’ dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.

6. Mata Pencaharian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Adat Panen

Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya.Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya.Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. 

Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.

Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari.Padi bukan hanya sumber kehidupan.Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.

7. Peralatan Hidup
Alat-alat yang digunakan untuk mencari nafkah (mata pencaharian), mencakup alat pencaharian hidup di laut seperti Perahu dan alat-alat penangkap ikan.Ada beberapa jenis perahu yang berasal dari suku Bugis, yaitu Perahu Pinisi (perahu dagang dengan ukuran sangat besar), Lambo’/ palari (perahu dagang yang ukurannya lebih kecil dari Pinisi), Lambocalabai (Perahu dagang yang bentuknya seperti kapal-kapal biasa.

Minggu, 03 Maret 2013

Cara membuat Strawberry Cheese Cake

Cara membuat Strawberry Cheese Cake

Strawberry Cheese Cake
Cara membuat Strawberry Cheese Cake tidaklah rumit, dan hasilnya pun mampu memikat yang melihat untuk menyantap kudapan enak ini. Sepertinya kue yang satu ini sangat cocok melengkapi saat-saat special anda. Saat pesta ataupun acara keluarga merupakan moment yang tepat untuk menyajikan kue penuh selera ini. Hmmmm.... bagaimana? tertarik mencobanya? Simak resep sederhana berikut ini.
Bahan-bahan :
  • 75 gram minyak goreng
  • 50 gram margarine, panaskan hingga meleleh
  • 185 ml susu cair
  • 1/2 sendok teh esens vanila
  • 225 gram tepung terigu protein rendah
  • 100 gram gula pasir halus
  • 7 kuning telur
  • 7 putih telur
  • 1/2 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh cream tartar
  • 100 gram gula pasir

Bahan Isi:
  • 1 sendok makan air
  • 75 gram selai strawberry
  • 75 gram buah strawberry, dipotong kotak kecil-kecil

Bahan-bahan Olesan/ (kocok hingga mengembang):
  • 50 gram whippy bubuk
  • 100 ml air es

Bahan Topping/Penutup Kue :
  • 25 gram selai stroberi
  • 8 buah stroberi
  • 150 gram keju cheddar, diparut memanjang
Cara membuat Strawberry Cheese Cake :
  1. Campur minyak goreng, margarine yang telah dilelehkan, susu cair, dan esens vanila kedalam satu wadah. Aduk sampai merata. Lalu sisihkan.
  2. Ayak tepung terigu. Tambahkan gula pasir halus. Aduk rata. Masukkan campuran susu cair sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk hingga rata. Tambahkan kuning telur. Aduk rata. Lalu sisihkan.
  3. Kocok putih telur, garam, dan cream tartar sampai setengah mengembang. Tambahkan gula pasir sedikit demi sedikit sambil dikocok sampai mengembang.
  4. Tuang ke dalam campuran tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan.
  5. Tuang adonan di dua buah loyang bulat ukuran diameter 22 cm tinggi 4 cm yang dialasi kertas tanpa dioles margarine.
  6. Oven dengan  temperatur 180 derajat Celcius kira-kira 25 menit sampai matang.
  7. Isian Kue, panaskan air dan selai strawberry sampai larut. Masukkan strawberry. Aduk sampai setengah layu.
  8. Ambil cake yang telah matang. Oleskan bahan isian kue. Tutup dengan cake yang tersisa.
  9. Oleskan permukaan cake dengan bahan olesan. Taburkan keju parut di seluruh permukaannya hingga tertutup rata.
  10. Masukkan sisa olesan dalam plastik segitiga yang diberi pasta. Buatlah bentuk cincin di beberapa bagian permukaan  cake. Isi bagian yang kosong dengan selai strawberry.
  11. Letakkan satu buah strawberry di atas selai strawberry.

Manfaat Strawberry

Beginilah rupa tanaman buah strawberry yang ada di belakang garasi, harus saya tutupi dengan net, karena kalau tidak, maka kami nggak akan kebagian buahnya , kenapa ?
Bukan karena serangan kumbang mungil ini yang ingin menghisap nektar dari bunga nya ……
tapi dari serangan puluhan aneka burung liar yang selalu datang ke kebun diantaranya ke dua burung jenis di atas, Amsel dan burung gereja. Burung burung ini kalau nyuri strawberry itu cuma dimakan sedikit, terus ganti makan buah yang lainnya, jadi nggak dihabiskan, makanya kalau nggak saya tutupi begini, bisa nggak kebagian kami.
Enaknya punya strawberry di halaman rumah itu, bisa metik kapan saja, dicuci langsung dimakan, segar dan terbebas dari pestisida, organik ya
Biasanya saya langsung makan buah ini, tapi kalau masih ada sisa banyak bisa dibikin jus strawberry ….
atau bisa dibuat kue strawberry, kesukaan mama mertua saya.Bisa dilihat di sini
Selain itu ada 10 manfaat buah strawberry
1. Mengandung vitamin C
2. Membuat kulit halus
3. Mencegah proses penuaan
4.Memperlambat aktivitas sel kanker
5.Membantu menurunkan kadar kolesterol
6.Mengurangi gejala stroke
7.Mengandung zat anti alergi dan radang
8.Melawan encok
9.Memerangi radang sendi
10. Daunnya yang mengandung astringent efektif buat meredakan diare

BUDIDAYA STROBERY

Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang bermanfaat sebagai makanan dalam keadaan segar atau olahannya. Produk makanan yang terbuat dari stroberi telah banyak dikenal misalnya sirup, jam, ataupun stup (compote) stroberi. Stroberi ditemukan pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu Fragaria chiloensis L menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia.
Varietas stroberi introduksi yang berkembang di Indonesia adalah Osogrande di Purbalingga, Selva di Karanganyar, Earlibrite (Holibert) di Garut dan Ciwidey Bandung, Rosa Linda, Sweet Charlie, Aerut, dan Camarosa di Bedugul Bali, Dorit, Lokal Brastagi dan California di Brastagi, Chandler di Bondowoso PTPN XII, Lokal Batu di Batu.

               Stroberi di Bondowoso PTPN 12                                Stroberi di Garut

Syarat Pertumbuhan
Iklim. Curah hujan 600-700 mm/tahun, penyinaran cahaya matahari 8–10 jam,  temperatur 17–20 OC, kelembaban  udara antara 80-90%. Media tanam yaitu tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik, (pH tanah) untuk budidaya dilapang   antara 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–7,0.  Dan ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-1.500  m dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA
Perbenihan
Stroberi diperbanyak dengan biji dan benih vegetatif (anakan, stolon atau akar sulur). Dan  kebutuhan benih per hektar antara 40.000-50.000 sesuai dengan jenis varietas maupun jarak tanam
Perbanyakan  secara  vegetatif, 
Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif. Penyiapan benih anakan dan stolon adalah sebagai berikut: Untuk benih anakan rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan.  Sedangkan untuk benih stolon rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua. Stolon ditanam dalam polybag atau plastik hingga daun mencapai 3 lembar dan penampakan segar (kurang lebih 1 bulan), setelah itu potong dan stolon siap ditanam. Perbanyakan vegetatif lebih baik melalui stolon daripada anakan. Stolon mampu  menghasilkan klon tanaman induk, sehingga memungkinkan tanaman untuk tumbuh di tanah dengan mudah.

              Perbanyakan stroberi dari stolon                 Perbanyakan stroberi dari anakan

Perbanyakan Secara In Vitro
Perbanyakan secara in vitro dilakukan untuk mendapatkan bibit bebas virus. Meristem pucuk yang berukuran 0,5 – 0,7 mm ini pada umumnya tidak mengandung virus.  Meristem pucuk ini kemudian ditanam dalam media kultur dalam kondisi aseptik dalam laboratorium.

Media kultur jaringan stroberi di Balitjestro
Penanaman  di Lapang
Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik, di awal musim hujan, lahan diolah sedalam 30-40 cm, keringanginkan selama 15-30 hari. Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40 x 60 cm, taburkan 20-30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan bedengan/guludan, biarkan bedengan / guludan selama 15 hari.
Budidaya di Kebun Dengan Mulsa Plastik, di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik dan keringanginkan 15-30 hari, membuat  bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm, lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm.

Koleksi stroberi di KP Tlekung, Balitjestro
Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman. Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Tanaman yang disulam adalah yang mati atau tumbuh abnormal.Penyiangan. Penyiangan (pewiwilan) dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya dilakukan bersama pemupukan susulan.
Perempelan/Pemangkasan. Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas. Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak. Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun.

Pemeliharaan tanaman stroberi

Pemupukan
Jenis komposisi pupuk yang digunakan tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Pada fase benih saat mengutamakan pertumbuhan vegetatif, pupuk NPK bisa digunakan dengan kadar N lebih tinggi dari P dan K, seperti NPK 32-10-10. Pada fase pertengahan menggunakan pupuk dengan kadar NPK yang seimbang 20-20-20 atau NPK 10-10-10. Pada fase generatif yakni saat pembentukan buah sedang pesat sangat dianjurkan memberikan pupuk NPK dengan kadar N dan K 1:2 atau 1:3. Contoh pupuk yang digunakan pada fase generatif adalah KNO3 atau NPK 10-10-20.

HAMA DAN PENYAKIT UTAMA
Hama. (1) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii). Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun. Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat. Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC dan Confidor 200 LC. (2) Tungau (Tetranychus sp. dan Tarsonemus sp.) Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga dan telur kemerah-merahan. Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering dan gugur. Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC. (3) Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi). Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman. Gejala: tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus dan kurang berbulu. Pengendalian: dengan nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.

Penyakit. (1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea). Gejala: bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.  (2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks) Gejala: buah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.  (3) Empelur merah (Phytopthora fragariae Hickman) menyerang akar, sehingga tanaman kerdil kemudian layu. Jika akar dipotong akan terdapat cincin merah. Pengendalian dengan fungisida sistemik namun tidak dianjurkan pada dua pekan menjelang panen.

PANEN


Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbunga ketika berumur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti. Buah Ketika panen, buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Sortir berdasarkan grade yang sudah ditentukan dan packing dalam mika plastik ukuran ¼ atau ½ kg yang sudah dilubangi.



Selasa, 05 Maret 2013

Clerical Worker in the Future


Clerical Worker in the Future
Clerical Worker in the Future
Clearical Worker as Receptionist
An office receptionist is the first person that the customers see when they come in to an office and also the first person that a caller would speak with if contacting the company by phone
Receptionist Work at Last and In the future

At Last
§  Handling Phone : call-handling is an activity serving customers or contacts via phone, where customers can leave a message or deliver the desired goals and objectives they call
§  Handling Guess  : serve the guests is an activity providing service to guests to help and meet their needs for the company. in this case we should be friendly, polite, well mannered and meek
§  Over Taking        :  take over the work can also be done by a receptionist, for example, if the leaders were out of town so some leadership tasks can be handled by the rules and authority granted
At Now : create a spread sheet, create a mail merge, create word documents, Updating and maintaining database of customers and taking orders over the phone is a routine activity every day to do. it is necessary that the company continues to update and can give the best to its customers.
§  Created Spread sheet
§  Create mail merge
§  Create documents word
§  Update and maintain a customer database
§  Flexiblle Call Routing

Skill Needed for The Future : there are some skills that must be considered for the future include
§  Good Speaking     :  use language that is courteous, friendly, and organized. especially in the phone try not eating and talking with others.
§  Social                    :  as a receptionist should have an open attitude to customer relations and this is done to maintain the good name and give a positive impression
§  Active Listening Perceptiveness : accept criticism and suggestions from others to build a better company
§  Service                 : service is very important because it affects the progress or decline of our company, in order to give the best customer service and relations remain in a relationship with our company '
A Receptionist in the future must have most knowledge, skills and good attitude for increasing carier and for be a good person at the future.
My interest is in future, because I am going to spend the rest of my life there.
Modern awards
A modern award may define the meaning of the term ‘clerical work’ for the purposes of interpreting that award. For example, the Clerks — Private Sector Award 2010 defines ‘clerical work’ to include recording, typing, calculating, invoicing, billing, charging, checking, receiving and answering calls, cash handling, operating a telephone switchboard and attending a reception desk. However, the award also names industry awards containing clerical classifications that are not covered by the Clerks



Kebudayaan Suku Bugis


Kebudayaan Suku Bugis

Suku Bugis adalah salah satu suku yang berdomisili di Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga bisa dikategorikan sebagai orang Bugis. Diperkirakan populasi orang Bugis mencapai angka enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara seperti di Malaysia, India, dan Australia.

Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat.Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini.Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum.Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan.Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhi.

Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten SidenrengRappang.Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan namaSidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa.Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong.Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen.Namun terdapat daerah dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut ‘Tau Lautang’ yang berarti ‘Orang Selatan’.Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat.Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu.Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat.Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka.Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.


1. Bahasa Suku Bugis

Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

2. Kepercayaan atau system religi

Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat.Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu.Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat.Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka.Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.
         
Religi orang Bugis dalam zaman pra-Islam seperti yang disebutkan dalam sure’ Galigo (karya sastra kuno Bugis), sebenarnya telah mengandung suatu kepercayaan kepada satu dewa yang tunggal, yang disebut dengan beberapa nama seperti : Patoto’e (Dia yang menentukan nasib), To-palanroe  (Dia yang menciptakan), Dewata seuae (Dewa yang tunggal), Tu-riE A’ra’na (kehendak yang tertinggi), Puang Matua(Tuhan yang tertinggi). Waktu agama Islam masuk ke Sulawesi Selatan pada permulaan abad ke-17, maka ajaran Tauhid dalam Islam, dapat mudah diterimadan proses itu dipercepat dengan adanya kontak terus-menerus dengan pedagang-pedagang Melayu Islam yang sudah menetap di Makassar, maupun dengan kunjungan-kunjungan niaga orang Bugis ke negeri-negeri lainyang penduduknya sudah beragama Islam.

3. Sistem Kekerabatan Suku Bugis
Dalam kalangan masyarakat Bugis, sistem kekerabatan yang dianut adalah ade’ asseajingeng. Sistem ini menyatakan peranannya dalam hal pencarian jodoh atau perkawinan untuk membentuk keluarga baru. Dalam penarikan garis keturunan mereka berpedoman kepada prinsip bilateral, artinya hubungan seseorang dengan kerabat pihak kerabat ayah dan pihak ibu sama erat dan pentingnya. Masyarakat Bugis terdiri dari dua golongan yang bersifat eksogam,pertaliankekerabatan dihitung menurut prinsip keturunan matrilineal, tetapi perkawinan bersifat patriokal. Dalam suatu perkawinan, orang Bugis sangat memperhatikan uang belanja yangdiberikan dari mempelai laki-laki. Makin besar pesta perkawinan itu ( uang belanja ), makin mempertinggi derajat sosial seseorang, walaupun harus dibelinya dengan kebangkrutan, atau dengan berhutang sekalipun. Penggolongan kerabat (seajing) di kalangan orang Bugis dibedakan antara rappe atau kelompok kerabat sedarah (consanguinity )dan sumpung lolo atau pertalian kerabat karena perkawinan (affinity). Kerabat itu dibedakan pula atas kerabat dekat ( seajing mareppe ) dan kerabat jauh ( seajing mabela ).
          Dalam masyarakat Sulawesi Selatan ditemukan sistem kekerabatan. Sistem kekrabatan tersebut adalah sebagai berikut:
a.   Keluarga inti atau keluarga batih. Keluarga ini merupakan yang terkecil. Dalam bahasa Bugis keluarga ini dikenal dengan istilah Sianang , di Mandar Saruang Moyang, di Makassar Sipa’anakang/sianakang, sedangkan orang Toraja menyebutnya Sangrurangan. Keluarga ini biasanya terdiri atas bapak, ibu, anak, saudara laki-laki bapak atau ibu yang belum kawin.
b.   Sepupu. Kekerabatan ini terjadi karena hubungan darah. Hubungan darah tersebut dilihat dari keturunan pihak ibu dan pihak bapak. Bagi orang Bugis kekerabatan ini disebut dengan istilah Sompulolo, orang Makassar mengistilkannya dengan Sipamanakang. Mandar Sangan dan Toraja menyebutkan Sirampaenna. Kekerabatan tersebut biasanya terdiri atas dua macam, yaitu sepupu dekat dan sepupu jauh. Yang tergolong sepupu dekat adalah sepupu satu kali sampai dengan sepupu tiga kali, sedangkan yang termasuk sepupu jauh adalah sepupu empat kali sampai lima kali.c. Keturunan. Kekerabatan yang terjadi berdasarkan garis keturunan baik dari garis ayah maupun garis ibu. Mereka itu biasanya menempati satu kampung. Terkadang pula terdapat keluarga yang bertempat tinggal di daerah lain. Hal ini bisanya disebabkan oleh karena mereka telah menjalin hubungan ikatan perkawinan dengan seseorang yang bermukim di daerah tersebut. Bagi masyarakat Bugis, kekerabatan ini disebut dengan Siwija orang Mandar Siwija, Makassar menyebutnya dengan istilah Sibali dan Toraja Sangrara Buku.

c.    Pertalian sepupu/persambungan keluarga. Kekerabatan ini muncul setelah adanya hubungan kawin antara rumpun keluarga yang satu dengan yang lain. Kedua rumpun keluarga tersebut biasanya tidak memiliki pertalian keluarga sebelumnya. Keluraga kedua pihak tersebut sudah saling menganggap keluarga sendiri. Orang-orang Bugis mengistilakan kekerabatan ini dengan Siteppang-teppang, Makassar Sikalu-kaluki, Mandar Sisambung sangana dan Toraja Sirampe-rampeang.

d.   Sikampung. Sistem kekerabatan yang terbangun karena bermukim dalam satu kampung, sekalipun dalam kelompok ini terdapat orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungan darahnya/keluarga. Perasaan akrab dan saling menganggap saudara/ keluarga muncul karena mereka sama-sama bermukim dalam satu kampung. Biasanya jika mereka berada itu kebetulan berada di perantauan, mereka saling topang-menopang, bantu-membantu dalam segala hal karena mereka saling menganggap saudara senasib dan sepenaggungan. Orang Bugis menyebut jenis kekerabatan ini dengan Sikampong, Makassar Sambori, suku Mandar mengistilakan Sikkampung dan Toraja menyebutkan Sangbanua.
Kesemua kekerabatan yang disebut di atas terjalin erat antar satu dengan yang lain. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh karena jika seorang membutuhkan yang lain, bantuan dan harapannya akan terpenuhi, bahkan mereka bersedia untuk segalanya.
Adat Pernikahan 

Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:
1.Assialang Maola
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah
    maupun ibu.
2. Assialanna Memang
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah
    maupun ibu.
3. Ripaddeppe’ Abelae
    Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah
    maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga. 

Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):
1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah
2. perkawinan antara saudara sekandung
3. perkawinan antara menantu dan mertua
4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan
5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu

4. Sistem Ekonomi Suku Bugis
Kebudayaan Maritim Bugis tidak hanya mengembangkan teknik dan system
Pelayaran.Tetapi juga telah memilih hukum niaga dalam pelayaran yang disebut Ade Anopoliping Bicaranna Pabboluebdan yang tertulis pada lontar oleh Amanna Gappa dalam abad 17. Sebelum perang dunia II daerah Sulawesi selatan adalah daerah surplus beras dan jagung .

5. Sistem Kesenian Suku Bugis
Folklore didefinisikan sebagai perbuatan-perbuatan (tarian), benda-benda , cerita rakyat yang belum dicatat atau dituliskan (folktale). Contoh beberapa folktale yang berkembang diantara orang-orang Bugis adalah Pocci-Tana,asal-usul kota (Toraja dan Luwu, Sinjai, Enrekang dan Mangkendek, dan Bulukamba), pemmali (tentang larangan atau pantangan).




Alat musik:
1.Kacapi(kecapi)
     Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang  memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun.
2. Sinrili
          Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan
membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain
duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.

3. Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundarseperti rebana.
4. Suling
          Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan
dimainkan bersama penyanyi
• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah
   Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris)      
atau acara penjemputan tamu.

Seni Tari
• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika
kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran
dan kehormatan
• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang
sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan
perempuan-perempuan Bugis.
• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria),
namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan tari
Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).





Permainan

Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak

Rumah Adat

Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain ( sumatera dan kalimantan ). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan [ orang bugis menyebutnya lego - lego
Bagaimana sebenarnya arsitektur dari rumah panggung khas bugis ini ?. Berikut adalah bagian – bagiannya utamanya :
  1. Tiang utama ( alliri ). Biasanya terdiri dari 4 batang setiap barisnya. jumlahnya tergantung jumlah ruangan yang akan dibuat. tetapi pada umumnya, terdiri dari 3 / 4 baris alliri. Jadi totalnya ada 12 batang alliri.
  2. Fadongko’, yaitu bagian yang bertugas sebagai penyambung dari alliri di setiap barisnya.
  3. Fattoppo, yaitu bagian yang bertugas sebagai pengait paling atas dari alliri paling tengah tiap barisnya.
Mengapa orang bugis suka dengan arsitektur rumah yang memiliki kolong ? Konon, orang bugis, jauh sebelum islam masuk ke tanah bugis ( tana ugi’ ), orang bugis memiliki kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas ( botting langi ), bagian tengah ( alang tengnga ) dan bagian bawagh ( paratiwi ). Mungkin itulah yang mengilhami orang bugis ( terutama yang tinggal di kampung, seperti diriku ) lebih suka dengan arsitektur rumah yang tinggi.
Bagian – bagian dari rumah bugis ini sebagai berikut :
  1. Rakkeang, adalah bagian diatas langit – langit ( eternit ). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen.
  2. Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah ( posi’ bola ).
  3. Awa bola, adalah bagian di bawah rumah, antara lantai rumah dengan tanah.
Yang lebih menarik sebenarnya dari rumah bugis ini adalah bahwa rumah ini dapat berdiri bahkan tanpa perlu satu paku pun.Semuanya murni menggunakan kayu.Dan uniknya lagi adalah rumah ini dapat di angkat / dipindah.

Baju Khas 

Baju bodo merupakan pakaian adat masyarakat Bugis-Makassar, terdiri dari berbagai macam warna yang dikenakan oleh perempuan utamanya dalam acara-acara adat seperti acara pengantin dan acara-acara adat yang lain. Tapi sudah tahu belum kalau ternyata perempuan yang memakai baju bodo ini tidak asal memilih warna.
Menurut  orang-orang tua kita, dahulu kala ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo ini. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
  1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
  2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
  3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
  4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
  5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
  6. Warna ungu dipakai oleh para janda.
Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, utamanya pada pesta pernikahan.Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman.Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busana yang lebih simpel dan mengikuti trend. Meskipun demikian, di daerah-daerah tertentu atau kampung-kampung bugis di luar kota yang jauh dari pengaruh budaya luar, baju bodo masih banyak dikenakan untuk acara-acara pernikahan dan acara-acara lain. Baju bodo juga tetap dikenakan oleh mempelai perempuan dalam resepsi pernikahan ataupun akad nikah.Begitu pula untuk passappi’-nya (Pendamping mempelai, biasanya anak-anak). Juga digunakan oleh pagar ayu
 

Hukum Adat

Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo’. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo’ Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat.Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini.Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum.Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan. 

Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya.Dalam Lontara’ La Toa, Nenek Mallomo’ disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo’ dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.

6. Mata Pencaharian

Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Adat Panen

Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya.Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya.Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. 

Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.

Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari.Padi bukan hanya sumber kehidupan.Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.

7. Peralatan Hidup
Alat-alat yang digunakan untuk mencari nafkah (mata pencaharian), mencakup alat pencaharian hidup di laut seperti Perahu dan alat-alat penangkap ikan.Ada beberapa jenis perahu yang berasal dari suku Bugis, yaitu Perahu Pinisi (perahu dagang dengan ukuran sangat besar), Lambo’/ palari (perahu dagang yang ukurannya lebih kecil dari Pinisi), Lambocalabai (Perahu dagang yang bentuknya seperti kapal-kapal biasa.

Minggu, 03 Maret 2013

Cara membuat Strawberry Cheese Cake

Cara membuat Strawberry Cheese Cake

Strawberry Cheese Cake
Cara membuat Strawberry Cheese Cake tidaklah rumit, dan hasilnya pun mampu memikat yang melihat untuk menyantap kudapan enak ini. Sepertinya kue yang satu ini sangat cocok melengkapi saat-saat special anda. Saat pesta ataupun acara keluarga merupakan moment yang tepat untuk menyajikan kue penuh selera ini. Hmmmm.... bagaimana? tertarik mencobanya? Simak resep sederhana berikut ini.
Bahan-bahan :
  • 75 gram minyak goreng
  • 50 gram margarine, panaskan hingga meleleh
  • 185 ml susu cair
  • 1/2 sendok teh esens vanila
  • 225 gram tepung terigu protein rendah
  • 100 gram gula pasir halus
  • 7 kuning telur
  • 7 putih telur
  • 1/2 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh cream tartar
  • 100 gram gula pasir

Bahan Isi:
  • 1 sendok makan air
  • 75 gram selai strawberry
  • 75 gram buah strawberry, dipotong kotak kecil-kecil

Bahan-bahan Olesan/ (kocok hingga mengembang):
  • 50 gram whippy bubuk
  • 100 ml air es

Bahan Topping/Penutup Kue :
  • 25 gram selai stroberi
  • 8 buah stroberi
  • 150 gram keju cheddar, diparut memanjang
Cara membuat Strawberry Cheese Cake :
  1. Campur minyak goreng, margarine yang telah dilelehkan, susu cair, dan esens vanila kedalam satu wadah. Aduk sampai merata. Lalu sisihkan.
  2. Ayak tepung terigu. Tambahkan gula pasir halus. Aduk rata. Masukkan campuran susu cair sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk hingga rata. Tambahkan kuning telur. Aduk rata. Lalu sisihkan.
  3. Kocok putih telur, garam, dan cream tartar sampai setengah mengembang. Tambahkan gula pasir sedikit demi sedikit sambil dikocok sampai mengembang.
  4. Tuang ke dalam campuran tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk perlahan.
  5. Tuang adonan di dua buah loyang bulat ukuran diameter 22 cm tinggi 4 cm yang dialasi kertas tanpa dioles margarine.
  6. Oven dengan  temperatur 180 derajat Celcius kira-kira 25 menit sampai matang.
  7. Isian Kue, panaskan air dan selai strawberry sampai larut. Masukkan strawberry. Aduk sampai setengah layu.
  8. Ambil cake yang telah matang. Oleskan bahan isian kue. Tutup dengan cake yang tersisa.
  9. Oleskan permukaan cake dengan bahan olesan. Taburkan keju parut di seluruh permukaannya hingga tertutup rata.
  10. Masukkan sisa olesan dalam plastik segitiga yang diberi pasta. Buatlah bentuk cincin di beberapa bagian permukaan  cake. Isi bagian yang kosong dengan selai strawberry.
  11. Letakkan satu buah strawberry di atas selai strawberry.

Manfaat Strawberry

Beginilah rupa tanaman buah strawberry yang ada di belakang garasi, harus saya tutupi dengan net, karena kalau tidak, maka kami nggak akan kebagian buahnya , kenapa ?
Bukan karena serangan kumbang mungil ini yang ingin menghisap nektar dari bunga nya ……
tapi dari serangan puluhan aneka burung liar yang selalu datang ke kebun diantaranya ke dua burung jenis di atas, Amsel dan burung gereja. Burung burung ini kalau nyuri strawberry itu cuma dimakan sedikit, terus ganti makan buah yang lainnya, jadi nggak dihabiskan, makanya kalau nggak saya tutupi begini, bisa nggak kebagian kami.
Enaknya punya strawberry di halaman rumah itu, bisa metik kapan saja, dicuci langsung dimakan, segar dan terbebas dari pestisida, organik ya
Biasanya saya langsung makan buah ini, tapi kalau masih ada sisa banyak bisa dibikin jus strawberry ….
atau bisa dibuat kue strawberry, kesukaan mama mertua saya.Bisa dilihat di sini
Selain itu ada 10 manfaat buah strawberry
1. Mengandung vitamin C
2. Membuat kulit halus
3. Mencegah proses penuaan
4.Memperlambat aktivitas sel kanker
5.Membantu menurunkan kadar kolesterol
6.Mengurangi gejala stroke
7.Mengandung zat anti alergi dan radang
8.Melawan encok
9.Memerangi radang sendi
10. Daunnya yang mengandung astringent efektif buat meredakan diare

BUDIDAYA STROBERY

Stroberi merupakan tanaman buah berupa herba yang bermanfaat sebagai makanan dalam keadaan segar atau olahannya. Produk makanan yang terbuat dari stroberi telah banyak dikenal misalnya sirup, jam, ataupun stup (compote) stroberi. Stroberi ditemukan pertama kali di Chili, Amerika. Salah satu spesies tanaman stroberi yaitu Fragaria chiloensis L menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia.
Varietas stroberi introduksi yang berkembang di Indonesia adalah Osogrande di Purbalingga, Selva di Karanganyar, Earlibrite (Holibert) di Garut dan Ciwidey Bandung, Rosa Linda, Sweet Charlie, Aerut, dan Camarosa di Bedugul Bali, Dorit, Lokal Brastagi dan California di Brastagi, Chandler di Bondowoso PTPN XII, Lokal Batu di Batu.

               Stroberi di Bondowoso PTPN 12                                Stroberi di Garut

Syarat Pertumbuhan
Iklim. Curah hujan 600-700 mm/tahun, penyinaran cahaya matahari 8–10 jam,  temperatur 17–20 OC, kelembaban  udara antara 80-90%. Media tanam yaitu tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik, (pH tanah) untuk budidaya dilapang   antara 5.4-7.0, sedangkan untuk budidaya di pot adalah 6.5–7,0.  Dan ketinggian tempat yang memenuhi syarat iklim tersebut adalah 1.000-1.500  m dpl.

PEDOMAN BUDIDAYA
Perbenihan
Stroberi diperbanyak dengan biji dan benih vegetatif (anakan, stolon atau akar sulur). Dan  kebutuhan benih per hektar antara 40.000-50.000 sesuai dengan jenis varietas maupun jarak tanam
Perbanyakan  secara  vegetatif, 
Tanaman induk yang dipilih harus berumur 1-2 tahun, sehat dan produktif. Penyiapan benih anakan dan stolon adalah sebagai berikut: Untuk benih anakan rumpun dibongkar dengan cangkul, tanaman induk dibagi menjadi beberapa bagian yang sedikitnya mengandung 1 anakan.  Sedangkan untuk benih stolon rumpun yang dipilih telah memiliki akar sulur pertama dan kedua. Stolon ditanam dalam polybag atau plastik hingga daun mencapai 3 lembar dan penampakan segar (kurang lebih 1 bulan), setelah itu potong dan stolon siap ditanam. Perbanyakan vegetatif lebih baik melalui stolon daripada anakan. Stolon mampu  menghasilkan klon tanaman induk, sehingga memungkinkan tanaman untuk tumbuh di tanah dengan mudah.

              Perbanyakan stroberi dari stolon                 Perbanyakan stroberi dari anakan

Perbanyakan Secara In Vitro
Perbanyakan secara in vitro dilakukan untuk mendapatkan bibit bebas virus. Meristem pucuk yang berukuran 0,5 – 0,7 mm ini pada umumnya tidak mengandung virus.  Meristem pucuk ini kemudian ditanam dalam media kultur dalam kondisi aseptik dalam laboratorium.

Media kultur jaringan stroberi di Balitjestro
Penanaman  di Lapang
Budidaya di Kebun Tanpa Mulsa Plastik, di awal musim hujan, lahan diolah sedalam 30-40 cm, keringanginkan selama 15-30 hari. Buat bedengan: lebar 80 x 100 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 40 x 60 cm atau guludan: lebar 40 x 60 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar guludan 40 x 60 cm, taburkan 20-30 ton/ha pupuk kandang/kompos secara merata di permukaan bedengan/guludan, biarkan bedengan / guludan selama 15 hari.
Budidaya di Kebun Dengan Mulsa Plastik, di awal musim hujan, lahan diolah dengan baik dan keringanginkan 15-30 hari, membuat  bedengan: lebar 80 x 120 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm atau guludan: lebar bawah 60 cm, lebar atas 40 cm, tinggi 30-40 cm, panjang disesuaikan dengan lahan, jarak antar bedengan 60 cm.

Koleksi stroberi di KP Tlekung, Balitjestro
Pemeliharaan Tanaman
Penyulaman. Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 15 hari setelah tanam. Tanaman yang disulam adalah yang mati atau tumbuh abnormal.Penyiangan. Penyiangan (pewiwilan) dilakukan pada pertanaman stroberi tanpa ataupun dengan mulsa plastik. Mulsa yang berada di antara barisan/bedengan dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah. Waktu penyiangan tergantung dari pertumbuhan gulma, biasanya dilakukan bersama pemupukan susulan.
Perempelan/Pemangkasan. Tanaman yang terlalu rimbun, terlalu banyak daun harus dipangkas. Pemangkasan dilakukan teratur terutama membuang daun-daun tua/rusak. Tanaman stroberi diremajakan setiap 2 tahun.

Pemeliharaan tanaman stroberi

Pemupukan
Jenis komposisi pupuk yang digunakan tergantung pada fase pertumbuhan tanaman. Pada fase benih saat mengutamakan pertumbuhan vegetatif, pupuk NPK bisa digunakan dengan kadar N lebih tinggi dari P dan K, seperti NPK 32-10-10. Pada fase pertengahan menggunakan pupuk dengan kadar NPK yang seimbang 20-20-20 atau NPK 10-10-10. Pada fase generatif yakni saat pembentukan buah sedang pesat sangat dianjurkan memberikan pupuk NPK dengan kadar N dan K 1:2 atau 1:3. Contoh pupuk yang digunakan pada fase generatif adalah KNO3 atau NPK 10-10-20.

HAMA DAN PENYAKIT UTAMA
Hama. (1) Kutu daun (Chaetosiphon fragaefolii). Kutu berwarna kuning-kuning kemerahan, kecil (1-2 mm), hidup bergerombol di permukaan bawah daun. Gejala: pucuk/daun keriput, keriting, pembentukan bunga/buah terhambat. Pengendalian: dengan insektisida Fastac 15 EC dan Confidor 200 LC. (2) Tungau (Tetranychus sp. dan Tarsonemus sp.) Tungau berukuran sangat kecil, betina berbentuk oval, jantan berbentuk agak segi tiga dan telur kemerah-merahan. Gejala: daun berbercak kuning sampai coklat, keriting, mengering dan gugur. Pengendalian: dengan insektisida Omite 570 EC, Mitac 200 EC atau Agrimec 18 EC. (3) Nematoda (Aphelenchoides fragariae atau A. ritzemabosi). Hidup di pangkal batang bahkan sampai pucuk tanaman. Gejala: tanaman tumbuh kerdil, tangkai daun kurus dan kurang berbulu. Pengendalian: dengan nematisida Trimaton 370 AS, Rugby 10 G atau Nemacur 10 G.

Penyakit. (1) Kapang kelabu (Botrytis cinerea). Gejala: bagian buah membusuk dan berwarna coklat lalu mengering. Pengendalian: dengan fungisida Benlate atau Grosid 50 SD.  (2) Busuk buah matang (Colletotrichum fragariae Brooks) Gejala: buah masak menjadi kebasah-basahan berwarna coklat muda dan buah dipenuhi massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian: dengan fungisida berbahan aktif tembaga seperti Kocide 80 AS, Funguran 82 WP, Cupravit OB 21.  (3) Empelur merah (Phytopthora fragariae Hickman) menyerang akar, sehingga tanaman kerdil kemudian layu. Jika akar dipotong akan terdapat cincin merah. Pengendalian dengan fungisida sistemik namun tidak dianjurkan pada dua pekan menjelang panen.

PANEN


Tanaman asal stolon dan anakan mulai berbunga ketika berumur 2 bulan setelah tanam. Bunga pertama sebaiknya dibuang. Setelah tanaman berumur 4 bulan, bunga dibiarkan tumbuh menjadi buah. Periode pembungaan dan pembuahan dapat berlangsung selama 2 tahun tanpa henti. Buah Ketika panen, buah disimpan dalam suatu wadah dengan hati-hati agar tidak memar, simpan di tempat teduh atau dibawa langsung ke tempat penampungan hasil. Sortir berdasarkan grade yang sudah ditentukan dan packing dalam mika plastik ukuran ¼ atau ½ kg yang sudah dilubangi.



Fish

Share It

Popular Posts